- Chang Bai Mountain
- Dapatkan Starter Pack THL Super dengan Harga Terjangkau
- Increases Body Immunity with Traditional Chinese Medicine
- Kesaksian
- Precious Herbs from Changbai Mountain
- Kanker Tulang
- Safely and Reliable Prevents Strokes
- Sebuah Harapan Baru
- Siegesbeckia Orientalis Reduces Blood Pressure and Relieves Thrombosis
- Survived from Colon Cancer Without Chemotherapy
- Traditional Chinese Medicine Strokes Treatment
Sorry, flash is not available.
Kanker Paru-Paru - Ayah dari Chen Meiyu
Submitted by feida on Wed, 01/21/2009 - 03:02.
Pada tanggal 29 Desember 1998 siang hari, Ketika saya sedang mencermati harga saham kakak ipar ke duaku nelpon dan memberitahukan bahwa ayah saya jatuh dari motor dalam perjalanan pulang dari memancing. Saya kira dia akan baik-baik saja karena masih bisa pulang sendiri setelah jatuh sehingga saya baru mengunjunginya setelah sore hari.
Memancing di sungai adalah aktifitas yang paling disenangi ayah saya dan dia tidak pernah merasa capek. Tetapi semenjak ibu saya terserang stroke pada tahun 1983, ayah saya meluangkan semua waktunya untuk merawat ibuku dan baru mendapatkan waktu untuk memancing setelah ibuku meninggal dunia pada tahun 1989. Pada masa itu ibuku tidak bisa berdiri dan hanya dapat duduk dikursi roda; adikku yang menjalani usaha keluarga. Setelah ibuku meninggal dunia, memancing adalah hiburannya dan ayah saya akhirnya bisa melupakan kesedihannya setelah ditinggal ibuku. Biasanya ayahku bisa menghabiskan setengah hari untuk memancing setiap tiga atau empat hari sekali.
Ketiga saya tiba dirumah ayahku, saya melihat ayahku kjesakitan di atas ranjang. Dia mengatakan ketika jatuh, dadanya terasa sakit tetapi masih bisa ditahan, akan tetapi setelah sampai dirumah dan baring diatas ranjang, sakit di dadanya mulai tidak tertahankan sehingga dia tidak bisa bangun dari ranjang.
Kakak saya dan saya segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Pimpinan rumah sakit adalah teman dari teman suamiku; dia juga yang dalam beberapa tahun ini menjadi dokter keluargaku. Setelah dia memeriksa dan melihat hasil X-ray, menurutnya ayah saya jatuh dari motor dan luka di sekitar tulang rusuknya bukan masalah; ada yang lebih serius untuk dibahas adalah penemuan paru-paru ayah saya yang dipenuhi cairan. Dia menasehati kami untuk membawanya ke rumah sakit besar untuk pemeriksaan selanjutnya secepat mungkin.
Setelah liburan tahun baru, ayah saya pindah ke rumah sakit. Lubang kecil dibuat disekitar susunya dan sebuah selang dimasukin untuk menyedot cairan yang ada di paru-parunya. Adik-adik saya dan istrinya dan saya bergiliran menjaga ayah saya dan kami kira setelah disedot, dia diperbolehkan pulang. Dua hari sebelum pulang, dokter memberitahukan pada kami bahwa dia ingin membahas sesuatu yang penting dengan semua anggota keluarga kami. Kami semua berfirasat tidak baik terhadap apa yang akan dibahas nanti. Tapi kami masih berharap bahwa mungkin karena dokter tidak punya waktu untuk membahas keadaan ayahku pada anggota keluargaku satu persatu.
Seperti yang difirasatkan, dokter memberitahukan bahwa ayahku mengidap kanker paru-paru stadium 3B. Karena ayah saya juga sakit diabetes, kondisi fisiknya juga tidak memungkinkan untuk dioperasi. Hanya pengobatan kemotherapi dan penyinaran yang bisa dilakukan. Kalau tidak ayahku hanya bisa bertahan hidup untuk tiga sampai enam bulan. Ketika mendengar kabar tersebut, perasaan saya jadi hampa. Semua anggota keluarga jadi sangat sedih dan bertanya-tanya kenapa terjadi pada ayahku.
Saya putri satu-satunya didalam keluarga kami dan saya mempunyai satu kakak laki-laki dan tiga adik laki-laki. Kakak saya terserang demam akut setelah baru dilahirkan dan dia menjadi keterbelakangan mental. Ketika saya berumur dua tahun, saya bisa berbicara dengan lancar dan pada umur lima tahun saya duduk dikasir dan membantu orangtuaku menjalani usaha mereka. Perilaku saya dan kakak saya sangat berbeda. Walaupun orangtuaku memiliki 3 anak lagi, ayahku masih paling menyayangi saya. Saya masih ingat sewaktu saya masih kecil, ayahku membuatkan lentera dan laying-layang untukku. Dia juga menemani saya melihat perayaan hari kemerdekaan; saya ingat keadaannya sangat ramai dan da mengngkat saya duduk di pundaknya agar bisa melihat dengan jelas. Ayah saya sering membawa saya ke pasar grosir untuk berbelanja. Sehingga semua pemilik toko di pasar tahu ayahku hanya memiliki seorang putri tetapi tidak tahu kalau ada 3 putra lainnya.
Pihak rumah sakit memperbolehkan ayah saya pulang. Ayah saya sudah dirumah sakit kurang lebih 17 hari. Kami mengadakan rapat keluarga dan memutuskan baik ayah saya maupun teman dari anggota keluarga tidak diberitahukan kenyataan ini. Semua anggota keluarga harus mendiskusikan pengalaman cara pengobatan lain yang lebih baik dan Kami akan menggunakannya jika memang bisa mengobati penyakit ayahku. Sepuluh hari setelah keluar dari rumah sakit, cairan warna kekunijnga-kuningan terus mengalir keluar dari lubang yang dibuat untuk menyedot cairan dari paru-paru. Pada tanggal 30 januari 1999, ayah saya pindah lagi ke rumah sakit besar untuk menjalani pengobatan selanjutnya.
Pada didiskusikan dengan anggota keluarga, semuanya tidak menyetujui terapi kimia maupun terapi penyinaran. Usia ayahku sudah 71 tahun dan mengidap hipertensi dan diabetes. Ditambah lagi, tanteku yang paling kecil baru meninggal karena kanker kerongkongan. Dia juga menjalani therapi kimia dan penyinaran juga menderita sangat kesakitan dari efek therapy tersebut; sehingga nyawanya tidak tertolong lagi. Tante yang lain sangat menentang pemberian dua pengobatan tersebut untuk diberikan pada ayahku. Dia yang menjaga tanteku yang paling kecil selama dia sakit dan menjadi saksi dari semua pemderitaan selama menjalani therapy tersebut. Dia memberitahukan pada kami ada produk “ Tien Hsien Liquid “ dimana sangat efekif untuk pasien kanker, dan pada saat itu ada beberapa teman juga memberitahukan tentang produk tersebut dan kesaksian pasien yang berhasil. Putra dari tanteku kuliah jurusan pengobatan ke Universitas Taiwan sangat menyesal kenapa dia dulu tidak memberikan Tien Hsien Liquid pada tanteku. Jika kami memberikan therapi kimia dan penyinaran, dia akan mengetahui kalau dia mengidap penyakit kanker, dimana akan merupakan suatu pukulan yang cukup berat untuk ayahku. Setelah didiskusikan, kami memutuskan menggunakan produk Tien Hsien Liquid sebagai pengobatan untuk ayahku. Pada saat itu, berat bandan ayahku turun drastic dari 73 kg dan 64 kg dan tidak berselera makan.
Pada tanggal 4 Februari, Kami dibawakan Tien Hsien Liquid dari Taipei atas bantuan dari teman Mr. Yao. Kami memberitahukan pada ayahku ini adalah supplement nutrisi terbaik, yang baik untuk mencegah kanker, dan mungkin akan membantu untuk kondisi seperti ayahku. Dia menerima anjuran kami dan mulai mengkonsumsinya demi kesembuhannya.
Ketika memberitahukan itu adalah supplement nutrisi, saya sangat sedih. Ayah saya orang sederhana. Dia membangun Lingjin grosir dengan kejujuran sebagai prinsip hidupnya sejak dari muda. Usahanya semakin maju dan menjadi agen. Dia memegang janjinya walaupun dia kadang-kadang harus mengalami kerugian. Ayah saya tidak pernah mengajarkan apapun pada kami tetapi memberikan contoh yang baik untuk kami. Melihat ayahku minum Tien Hsien Liquid dengan senang, saya memalingkan muka dan menahan nangis
Hanya berselang 2 hari setelah minum Tien Hsien Liquid, ayah saya kembali berselera makan tanpa diketahui alasan pasti apa dikarenakan minum Tien Hsien Liquid atau karena pindah rumah sakit. Menjelang perayaan imlek, pemeriksaan pada pasien akan tertunda. Kami membawa ayahku pulang kerumah dan menikmati suasana kemeriahan dalam kemelut kesedihan.yang paling panting adalah kesehatan ayah saya menunjukan kemajuan. Pada hari imlek, saya segera kerumah ayahku setelah pulang dari rumah mertuaku. Pada acara reuni makan malam tahunan bersama ayahku, saya terus berdoa agar dapat merayakan bersama ayahku untuk tahun depan. Saya teringat akan masa udaku, sebelum imlek, kedua orangtuaku selalu sangat sibuk dan sehari cuma tidur 4 sampai 5 jam saja. Akan tetapi, mereka masih menyiapkan baju baru dan sepatu baru untuk anak-anaknya.
Setelah merayakan imlek, ayahku kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan pengobatan. Yang aneh, setelah menjalani pemeriksaan hasilnya menunjukan indikasi yang tidak jelas kalau ayahku menderita kanker paru-paru. Dokter cuma menyatakan ada radang di sekitar dadanya, diabetes dan hipertensi. Kami juga memberitahukan pada dokter bahwa ayahku minum Tian Hsien Liquid pada waktu yang bersamaan. Dokter mengatakan tidak bisa memastikan apakah Tien Hsien Liquid efektif atau tidak, jika ayahku merasa lebih baik setelah minum cairan tersebut, teruskan saja mengkonsumsinya. Sehingga ayahku tetap minum Tien Hsien Liquid setiap hari tanpa berhenti. Kondisi ayahku dari hari ke hari semakin baik dan segar dan berat badannya naik menjadi 70 kg; Cuma kurang 3 kg dibandingkan sebelum dia sakit. Pada tanggal 17 Maret, Kami keluar dari rumah sakit dengan bahagia dan membawa ayahku pulang. Kali ini, ayah saya rawat dirumah sakit selama 47 hari dan diminta untuk control ke dokter sebulan sekali mulai sekarang.
Setelah pulang kerumah, ayah saya menjalani hidup seperti biasa dan tetap minum Tien Hsien Liquid setiap hari. Dia juga bisa menjemput cucunya pulang dari sekolah setiap hari dengan motor. Untuk kegiatan memancing, dikarena jaraknya 40 sampai 50 km, kami memintanya untuk tidak pergi lagi. Ayah saya juga bisa keluar sendiri untuk membeli makanan kesukaannya dan pergi kerumah sakit untuk pemeriksaan setiap bulan. Daftar ke dokter pada sore, adik saya dan saya akan menemaninya dan kemudian mengantarnya sampai di stasiun. Walaupun ayah saya semakin tua dari hari ke hari, dia dapat menjalani hidup dengan normal dan bertahan hidup melebihi waktu yang diprediksi. Saya selalu berdoa dan berterima kasih pada tuhan karena memberikan waktu lebih lama untuk ayah saya.
Pada tahun 2000, saya ke rumah ayahku untuk merayakan tahun baru dan imlek bersamanya. Ayah saya masih seperti biasa dan Kami semua sangat bahagia. Ayah saya telah melewati masa sulitnya dan pada pemeriksaan di rumah sakit, kondisinya masih tetap stabil. Adik saya dan saya sangat percaya kalau ayah saya dapat bertahan hidup berkat Tian Hsien Liquid. Kami masih penasaran berapa lama kondisinya akan tetap bertahan. Diskusi bersama teman suamiku Mr. Luo, membuat kami sadar.
Mr. Luo berkata kondisi yang paling buruk dari pasien kanker adalah rasa sakitnya dan penyiksaan yang dirasakan sampai stadium terakhir. Ditambah lagi, keluarganya mungkin lebih menderita dari pasiennya baik fisik maupun mental. Jika Tien Hsien Liquid bisa memperpanjang hidup pasien lebih lama dan pasien dapat menjalani hidup dengan bahagia dan normal, apa lagi yang kamu minta?
Perkataannya mengingatkan pada kami bahwa penderita kanker stadium akhir biasanya bertahan hidupn hanya tiga sampai enam bulan saja. Tanpa pengobatan tambahan, ayah saya dapat bertahan hidup hanya minum Tien Hsien Liquid dan tidak merasa sakit, apalagi yang saya minta? Sejauh ini, berat badan ayahku naik menjadi 74kg, dimana lebih 1 kg dari sbelumnya.
Pada tanggal 6 Agustus, putra bungsu saya masuk universitas dan adik saya mengadakan pesta untuk merayakannya. Semua anggota keluarga hadir, termasuk adik-adik saya dan keluarganya, ayah saya dan keluarga saya. Kami pergi ke restoran dan pergi ke pantai untuk melihat laut. Ini salah satu kenangan kumpul keluarga yang paling tak terlupakan.
Hanya berselang lima tahun, putri saya masuk universitas. Ayah saya sangat bahagia dan dia ngotot mau ngantar saya untuk menemani putri saya melakukan pendaftaran dan mengunjungi asramanya yang ada di luar kota. Karena ada badai, ayah saya dan saya segera pulang setelah semuanya selesai. Pada saat itu, ayah saya masih sehat dan dia menyetir sangat cepat di jalan tol seakan akan badai mengejar kami. Saya masih ingat ketika saya kecil dan orang tua saya sedang tidak sibuk, ayah akan membawa kami mengunjungi keluarga di Taiwan selatan dengan menaiki truk. Jalannya tidak mulus dan kami duduk dikursi kecil dibelakang truk, tetapi kami merasa bangga.
Pada Oktober, saya melihat ayah saya agak kurusan. Pada pemeriksaan rutin setiap bulan, dokter menemukan indikasi sel kankernya naik pada hasil pemeriksaan darah. Tetapi, ayah saya tidak merasakan tidak nyaman dan dia menjalani hidupnya dengan normal. Pada tanggal 1 Januari 2001, ayah saya memberitahukan pada saya bahwa dia tidak berselera makan dan hanya ingin makan makanan dingin. Pada bulan Maret, ayah saya memberitahukan pada kami bahwa dada dan lengannya sakit. Dokter memberitahukan bahwa keadaannya semakin buruk dan berjkata kalau kami memberinya terapi kimia dan penyinaran, tidak akan banyak membantu.
Ayah saya semakin tidak bertenaga dan pada awal April, ayah saya memuntahkan semua makanan yang dimakannya dan mulai nginap di rumah sakit lagi. Setelah berdiskusi dengan adik-adik saya, kami memutuskan untuk membiarkannya menjalani hidup dengan normal tanpa menjalani terapi kimia dan penyinaran karena kesempatannya sudah sangat kecil dan penderitaan yang akan dialaminya setelah menjalani terapi tersebut.
Dokter Shi memberitahukan bahwa kami seharusnya memberitahukan kenyataan pada ayahku bahwa dia mengidap kanker sehingga waktu yang tersisa tidak lama lagi dan memberinya waktu untuk mewujudkan keinginannya. Saya dan adik-adik saya menangis dan kami semua tidak sanggup melihat ayahku kalau dia tahu kenyataannya dan menderita.
Pada tanggal 19 April, ayah saya keluar dari rumah sakit dan pulang kerumah. Berat badannya sekarang sekitar 60 kg. Kami tidak bisa menjaganya sepanjang hari sehingga kami memperkerjakan suster untuk menjaganya. Ayah saya tidak bertenaga untuk berdiri dan dia tidak bisa minum Tien Hsien Liquid. Karena dadanya sakit, dia hanya bisa menggunakan plaster penghilang rasa sakit. Selain kondisi tubuhnya yang lemah, yang lainnya normal seperti biasa.
Pada tanggal 4 Mei, saya bersama ayah saya semalaman. Setiap kali saya saya mengatakan mau pulangm dia akan batuk dan kelihatan tidak nyaman sehingga saya harus berada disampingnya. Saya tahu kalau ayah saya menginginkan saya tetap berada disampingnya tetapi tidak mengatakannya. Karena saya kecapean, saya menahan agar tidak menangis dan meninggalkan rumah ayahku.
Pada tanggal 5 Mei, saya mengunjungi rumah mertuaku bersama suami saya. Ibu mertua saya bertanya tentang keadaan bapak saya dan menasehati saya untuk menemaninya sebisa mungkin. Pada jam delapan malam, adik ipar saya menelpon saya dan mengatakan bahwa ayah saya ingin bertemu dengan saya. Karena besok hari minggu, saya pikir lebih baik saya kesana agak malam. Ketika saya sampai dirumah ayahku, saya melihat kondisinya tambah buruk. Saya memberitahukan padanya untuk tidak khawatir karena saya tidak pulang malam ini. Pada jam satu pagi tanggal 6, ayah saya kesakitan dan minta diantar ke rumah sakit. Adik-adik saya dan saya segera mengantarnya ke ruang UGD rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit, ayah saya pingsan. Setelah mendapat pertolongan pertama di ruang UGD, ayah saya sadar. Hal pertama yang dikatakan ketika ada dirumah sakit adalah “saya merasa tenang setelah dirumah sakit”. Saya meminta adik saya untuk pulang istirahat pada jam 5 pagi, ayah saya kelihatan sangat kelelahan, saya memberitahukan padanya bahwa saya akan ada disampingnya dan memintanya untuk istirahat. Setelah dia memejamkan matanya, dia tidak koma; pada jam empat lewat empat puluh lima menit sore harinya, dia meninggal dunia.
Mengingat semasa hidupnya, menurut saya dia hidup untuk orang lain bukan untuk dirinya. Dia sangat keras kepala tetapi baik. Dia hanya melakukan hal yang menurutnya benar dan tidak menceritakan ke orang lain apa yang dia lakukan. Dia lebih mengorbankan diri dari pada orang lain yang terganggu. Saya percaya karena itulah walaupun dia terserang kanker, dia beruntung bisa minum Tien Hsien Liquid yang membantunya tidak mengalami penyiksaan dari penyakit yang dideritanya. Ketika dia meninggal, dia masih memikirkan orang lain.
Saya tidak terlalu berduka cita ketika ayahku meninggal. Karena kami tahu kondisi ayahku sehingga kami punya waktu untuk menerima kepergiannya. Dilain pihak, kadang-kadang saya berharap agar dia dapat pergi lebih awal. Saya sangat banyak mendengar kisah pasien kanker stadium akhir, mereka tidak sanggup menahan rasa sakit dan penyiksaan karena kaki dan tangan mereka diikat. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana ayah saya mengalami semua penderitaan sehingga saya berharap dia bisa pergi lebih awal. Sampai sekarang, ketika saya menulis artikel ini dan mengingat kasih sayang antara saya dan ayah saya, saya masih merasa sedih atas kepergiannya.